PARAJE’ KERATON SURYA NEGARA SANGGAU

2 min read

Faradje? berdasarkan bahasa Budaya Istana Surya Negara adalah suatu acara perpaduan antara Agama, Adat-Istiadat, Seni Budaya dan Tatanan Pemerintah Istana. Adat-istiadat ini merupakan acara ritual yang bersifat sakral oleh karena itu secara turun temurun hingga saat ini tetap terjaga dan dilaksanakan sepanjang tahun, baik itu pada lingkungan Istana Surya Negara maupun disetiap Desa / Kampung di seluruh wilayah Kabupaten Sanggau. Dalam Wikipedia Encyclopedia, Paradje, Paraje, Faraje atau Faradje bermakna iringan, barisan, perarakan atau kirab yang dilakukan oleh sekelompok orang baik dalam jumlah terbatas maupun dalam jumlah besar. Aktivitas tersebut berlangsung dengan menggunakan pakaian atau perlengkapan yang khas sambil melakukan kegiatan tertentu. Makna tersebut juga terdapat dalam Etimology Bahasa Melayu. Sedangkan dalam bahasa Arab, Faradje? berasal dari kata ?FARAJ? atau ?FARAJI? yang bermaksud ?KEMBANG?, ?DILUASKAN?. Pengembangan dan pengluasan tersebut berhubungan dengan saluran tiub yang menuju dari uterus keluar badan berplasenta. Pada pandangan Biologi, Faraj berfungsi sebagai saluran untuk mengeluarkan benda kotor baik dalam bentuk padat maupun bentuk cair dari dalam tubuh. Hal tersebut memberikan manfaat terhadap terjaganya kesehatan tubuh dan terlindunginya tubuh dari virus-virus atau unsur-unsur luar yang negatif dan hendak mengancam kesehatan tubuh itu sendiri. Dibidang Kedokteran, Faraj bermakna membersihkan diri karena merupakan organ yang berguna untuk membersihkan diri. Organ tersebut termasuk salah satu unsur utama yang harus diperhatikan karena jika organ tersebut tidak bersih akan menimbulkan penyakit dan memancing timbulnya penyakit-penyakit baru. Dalam pengertian Ilmu Fiqh, Faraj berhubungan dengan Thaharah atau Istinja. Yaitu Menurut bahasa, thaharah artinya suci atau bersih. Sedangkan menurut istilah syariat, thaharah adalah suci dari hadats dan najis. Dalam hukum Islam, soal bersuci dan segala seluk-beluknya termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting, terutama karena diantara syarat-syarat shalat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan shalat, wajib suci dari hadats dan suci pula badan, pakaian dan tempatnya dari najis. Dalam kitab yang merangkum catatan-catatan yang ditulis oleh Syeikh Nefzawi sekitar Abad ke 16, ?FARAJI? atau ?FARAJ? bermakna penyelamatan dari nasib buruk. Dan dalam pelajaran Tassawuf, kata ?FARAJ? secara leksikal bermakna ?Terlepas dari kesedihan dan kegundahan serta bermakna kelapangan. Dalam literatur-literatur Hadits, ?FARAJ? bermakna kelapangan atas berbagai urusan. Berdasarkan penjelasan AlHabib Muhammad Ridha Yahya bahwa kata ?FARAJ? berhubungan dengan ikhtiar atau usaha guna mendapatkan jalan dan keluasan terhadap berbagai urusan bahkan jalan atau keluasan tersebut juga berfungsi untuk mengantisipasi atau menghindari rintangan, kesulitan, bencana, bala dan malapetaka yang kemungkinan akan menimpa. Ikhtiar atau usaha tersebut terimplementasi dalam bentuk do?a-do?a yang disebut sebagai Do?a Faraj, bahkan terdapat juga jalan melalui Shalat yang disebut Shalat Faraj. Do?a Faraj dan Shalat Faraj tersebut bersumber dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ali Ra. Dari Imam Ali Ra do?a tersebut diamalkan pada malam ke 23 bulan suci Ramadhan. Namun do?a tersebut dapat dibaca kapan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *